Posted by: purna on: Desember 10, 2008
Du… kasian blogku, hav bin ignor for manths. Fe’giv mi ya blog. Ni aku lagi sibuk, jadi aku tak bisa begitu bebas mengunjungimu. Halah…
B.E.B.A.S.
Bebas asap rokok
=> artinya: bebas, tidak boleh ada yang merokok.
Bebas berpendapat
=> artinya: bebas, siapa saja boleh mengeluarkan pendapat.
Aneh, ya kan. Satu kata punya arti belawanan.
Beberapa tahun terakhir, bebas seperti sebuah idaman, sesuatu yang istimewa, most wanted. Bertambah-tambah yang minta untuk dibebaskan menjadi “bebas”. Kedengarannya memang enak. BEBAS.
Beberapa kali, di Jakarta ini, semakin banyak, diantaranya terlihat kumpulan pejuang kebebasan (waktu nyanyi di angkot lirik lagunya begitu). Mereka pemuda, bergerombol, dipinggir-pinggir jalan, rata-rata usia 17-23 tahun, berpakaian hitam sengaja bertambal sana sini, rambut warna warni dibuat berdiri seperti ruji sepeda, telinga bertindik lebaarr mirip telinga wanita suku dayak dan kalau dari penampakan, seperti 2 minggu tak mandi, yes, punk.
Di daerahpun tak kalah ramainya, pejuang kebebasan. UU pornografi ramai ditentang. Atas nama kebebasan.
Let’s see KBBI Daring:
be•bas /bébas/ a:
1 lepas sama sekali
2 lepas dari
3 tidak dikenakan
4 tidak terikat atau terbatas oleh aturan dsb
5 merdeka
6 tidak terdapat (didapati) lagi.
Umm..tu… tidak ada yang salah dari kata bebas, m-mungkin saja, aplikasinya perlu dikaji. Sebelum “bebas” yang berkah jadi musibah.
Piye kalau Jakarta bebas macet – Wah mimpi indah –
Selalu salam bersaudara.
Posted by: purna on: September 26, 2008
Ganti kulit, yang nuansa ceria. Senang sih, mau mudik.
Mudik lebaran,
Yang menyenangkan:
1. Berkumpul dengan orang tua, kakak dan keluarga
2. Makan enak (karena bu’e yang masak)
3. Tidur nyenyak
4. Udara segar
5. Main main sama ponakan
6. Silaturahin ke rumah saudara-saudara, sekalian kuliner ![]()
7. Reunian sama teman waktu kecil –mengenang masa muda
8. Pakai baju baru ![]()
9. Dan masih banyak lagi
Yang menyebalkan:
1. None
Ayo mudik teman-teman.
Dan tak lupa Selamat hari raya Iedul Fitri 1429 H. Takabalallahu minnaa wa minkum ya…
Posted by: purna on: Agustus 7, 2008
Tahun 2006:
(kira-kira begini)
Sang “Juliet”, sendiri di kamar, sedang merapikan isi lemari, aku datang menghampiri, tidak membantu hanya menemani. Diantara yang berserakan, kupungut selembar gambar. Gambar dua orang tersenyum berlatar belakang air terjun dan pepohonan. Meski gambar jadul -di dalam gambar, mereka tampak jauh lebih muda dari yang sekarang- tapi bisa kukenali, jelas bisa. Bagian bawahnya ada tulisan, font Monotype Corsiva, size 16.
“Arisa?” aku baca kenceng dengan intonasi bertanya sambil naik ke tempat tidur.
“Ari dan Risa” jawab sang Juliet sambil senyum-senyum.
“Hahaha… ABG!!!!” kataku.
Sejak itu, sampai kini, si gambar jadi hak milikku, kusimpan di dompet, damai bersanding dengan KTP.
Kamarin, 4 Agustus 2008.
Di Sms
“Nduk, tolong periksain email mas Ari, ada 7, aku nggak bisa buka, di sekolah jaringannya jelek”
1 jam, ku jawab.
“Sudah ku buka, 3 email konfirmasi, 2 dariku sendiri, 2 lagi email invitan dari ayu” – aku ndak bilang email dr ayu itu spam
. Sengaja
-
Ia balas:
“Ayu siapa? …”
kujawab
“Tauk, kalau dari namanya sih wanita”
Mungkin kurang dari 1 menit, ia balas
“hapus nduk, pokoknya hapus. Mas Ari suka iseng, Nanti ia kirim-kiriman email sama ayu”
kujawab
“siap laksanakan!!!!”
heheh… New couple senangnya aku melihat aksi mereka, samtaim rud, samtaim cildis, samtaim swiit.
Salam
Bi Hepi Femeli…
Posted by: purna on: Juli 6, 2008
Bising, seperti biasa.
Bis merayap, seperti biasa.
Duduk melihat pemandangan pinggiran jalan, seperti biasa.
Merenung, seperti biasa.
Temanya tentang hidup, juga seperti biasa.
Ketika kecil, ingin segera besar. Kelihatannya (waktu itu) menjadi anak besar adalah menyenangkan; bebas, takkan dipaksa tidursiang oleh Bunda.
Waktu SMP, ingin segera SMA. Menjadi SMA enak, seragamnya bagus, putih abu-abu, kelihatan dewasa, berwibawa, dan kalo mau pacaran boleh boleh saja (?).
Waktu SMA, ingin segera lulus, dan bekerja pula. Ada uang sendiri, nggak perlu malu minta uang saku.
Setelah jadi pekerja maunya apa ya?
—– Mau dipaksa tidur siang lagi jew
—–
Menyelam sedalam samudra.
Menjulang setinggi bintang dan bulan di angkasa.
Dunia ruar biasa, setiap jengkal tanah ada emas permata, tidak perlu menunggu besok untuk menjadi kaya. Dunia begitu rupa, malaikat-malaikat terbang dengan sayap menuju terang; dan para bidadari berkerumun di semak-semak; wangi dan bernyanyi.
Namun rupawan, takkan pernah terlihat bagi mereka yang mengabaikan.
Hampir semuaorang tidak tau dimana tempatnya berpijak.
Banyak manusia hebat di sekitar, kalau mau sombong jadi katak dalam tempurung saja.
Baaaaru layak.
Posted by: purna on: Juni 14, 2008
#Preface# Suatu hari di ruang virtual:
X: … islam itu kaku
Y: gak!!! islam gak kaku
Z: kata siapa islam kaku?
Z: kalo ga ngerti ga usah bicara
X: … harus terima bahwa Islam itu memang sebuah sistem yang kaku, perintah shalat itu kaku kok, jadi kalian itu dipaksa buat sholat
Z: ga dipaksa, islam itu tidak memaksa
X: ya islam itu kaku karena semuanya adalah paksaan
——————————————————————
Tebak, mana yang benar X atau Y? kaku atau tidak kaku?
Wallahu ‘alam
Satu pokok pikiran bila diletakkan dalam 2 kepala manusia, lalu dua manusia itu sama-sama menuangkan dalam 1 karangan (atau 1 kalimat) maka hasilnya akan berbeda. Ya, karena masing masing orang memiliki cara berbeda dalam mimilih kata. Berbeda pilihan kata sebagai perwakilan dari apa yang ada dalam pikiran, berbedalah pula kalimatnya.
Kabarnya cara seorang memilih kata dalam berkalimat menggambarkan perasaanya, kecerdasannya dan sikap keperibadiannya.
Misal:
saya mengatakan: memasak adalah hal yang sulit,
maka berarti saya tidak pandai memasak,
Saya mengatakan x3-2×2+x=12 adalah perkara yang mudah untuk dipecahkan,
maka artinya meski ndak pandai memasak akan tetapi saya cerdas (
, misaall, misaall!!!)
Bagaimanapun, kekacauan dalam pemilihan kata sering menimbulkan salah pengertian. Sering terjadi bukan, seseorang telah memaparkan sesuatu yang (menurutnya) sudah jelas dan gamblang, tapi lawan bicara masih belum get the point, atau mungkin mengartikan yang sebaliknya. ya betapa kesalahan berbahasa dapat menciptakan perselisihan, permusuhan, perkelahian, perdebatan…per…per… (apa lagi ya hhmm… peraturan > salah, perkampungan > salah, perjalanan > salahhh!!!!)
lebih dari itu, sebenarnya, keharmonisan berbicara akan jadi baik, lebih besar bila disuport oleh kepositifan dalam berasumsi.
——————————————————————–
A: Meja kerjamu kulihat selalu bersih dan rapi deh
B: kau nyindir ya, maksudmu aku datang ke kantor cuma duduk-duduk aja, santai-santai aja, Nggak ngerjain apa-apa gitu, maksudmu aku cuma chatting aja, googling aja, nggak peras keringat gitu.
——————————————————————–
hehehe… “why not the best?”
Wallahu ‘alam