Posted by: purna on: Februari 5, 2011
Hayo tolong disimaaak, wanita 25 tahun mau berceritaa… ![]()
I don’t like this joke.
It really isn’t joke. It is fact.
Melakukan kesalahan?
Biasaaa. Semua orang pernah. Yang tak pernah salah adalah malaikat.
Membela diri atau…?
Perasaan bersalah itu seperti asap rokok, berputar-putar membuat sesak. Perasaan bersalah itu seperti “hantu”. Hitam, seram, mengikuti di belakang.
Pernah saya membuat kesalahan, (ndak usah disebut kesalahannya apa karena menyebarkan aib manusia termasuk Larangan) yang mana kesalahan yang saya lakukan itu mendatangkan kerugian bagi orang lain. Sayangnya, orang yang kurugikan ini adalah orang baik-baik, seorang teman, hehe. Alih alih datang meminta maaf padanya, saya “diam” berjuang sendiri melawan serangan si asap rokok (K2).
bodoh? Ya?
Nggak papa, karena zaman dulu belum 25 tahun
Sebenarnya saat saya “diam” itu, saya memikirkan berbagai kemungkinan bagaimana teman saya ini akan membalas kerugian yang saya sebabkan. Saya berperasangka mungkin ia akan menuntut, mungkin ia akan marah, mungkin ia akan memfitnah atau mungkin ia akan meninggalkan saya sendiri saat makan siang, ya saya berperasangka padanya (K3). Ternyata, faktanya nihil, saya nggak menerima apapun kecuali tangannya terbuka menerima saya kembali. Maka jadilah perasaan bersalah saya tak tertangguhkan menjelma menjadi hantu.
Merasa bersalah tidak selalu bisa menjadi obat dari penyakit yang telah kita ciptakan, otherwise ia berperan menjadi pupuk penyubur si penyakit, membuatnya meninggi, melebar, menyebar. Seandainya pasca berbuat kesalahan (yang saya ceritakan diatas) saya langsung datang kepadanya meminta maaf, pasti saya tidak perlu melakukan kesalahan 2 dan 3 (K2 dan K3). Ya?. Kalau memang salah ya mengakulah, meminta maaf, dan jangan diulangi. Itu jauh lebih baik dari pada tenggelam menyalahkan diri
Semua orang pernah melakukan kesalahan, benar. Tapi berputus asa karena kesalahan sendiri itu bodoh. Yang labih baik adalah memperbaiki bagaimana agar kesalahan yang telah kita buat tidak menjadi bibit kesalahan berikutnya. Dari kesalahanlah datang yang namanya taubat, dari kesalahan juga datang yang namanya maaf, memaafkan.
Seorang guru pernah berkata bahwa memaafkan adalah suatu yang lebih mulia di sisi Allah swt. Dalam hal ini bukan hanya memaafkan orang lain tetapi juga memaafkan diri sendiri.
“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh” -Al Qur’an surat Al A’raf:199-
Februari 5, 2011 pada 12:56 pm
Sebaik-baik manusia bukanlah yang tidak pernah berbuat salah….tetapi yang cepat bertaubat dengan taubatan nasuha…ketika berbuat salah….
Salam kenal,
by: http://gunawank.wordpress.com/2011/01/24/tips-meningkatkan-google-page-rank/