Posted by: purna on: Agustus 10, 2010
Cinta itu sederhana, sesederhana mengedipkan mata.
Sudah dari sananya mungkin ya, sudah ditetapkan oleh Allah ta’ala sebagai fitrah, bahwa seorang ibu selalu pengasih pada anaknya. Rela berkorban nggak kira-kira.
Bila kita lihat sedikit lebih cermat, seorang wanita yang telah melahirkan anak tak lagi sama dengan dirinya yang dulu, yang single. Setidaknya saya melihat begitu. Tetangga, sahabat, teman dan atasan saya setelah melahirkan anak pertama, mereka berubah seperti menjadi manusia baru, manusia yang lain berbeda.
Berubahanya apa?
Berubahnya:
1. Mereka lebih berhati-hati membelanjakan harta
2. Mereka lebih suka berbincang-bincang dengan sesamanya (sesama ibu)
3. Mereka lebih suka pulang kerja secepat-sepatnya
Akan tetapi 3 point diatas bukanlah seberapa dibanding berubahan keperibadian dan kecenderungan mereka. Kecenderungan dalam apa yang mereka bicarakan, dalam apa yang mereka ceritakan, dalam apa yang mereka lakukan. Yang seluruh kecenderungan itu bermuara tak lain adalah pada anaknya.
Bisa ya, seorang bayi yang belum nampak wujudnya (masih di perut
), membuat ibunya jatuh cinta, sejatuh jatuhnya.
Bisa ya, seorang bayi yang bahkan belum bisa bicara merubah jiwa ibundanya. Totally.
Hehe…
Maka apa yang bisa disimpulkan, selain bahwa itu adalah anugerah dari Allah subhanahu wa ta’ala, baik anaknya maupun cinta dari ibunya. Anugerah. Anugerah yang amat besar, sampai si ibu berubah tanpa sadar. Pancen Allah ‘azza wa jalla ki maha kuasa.
biiiii heppi femeliiii…!!!