Posted by: purna on: April 19, 2010
Karena saya sedang ingin bercerita dan karena (seperti biasa) saya tidak mendapati teman yang (nampaknya) mau mendengar cerita saya, maka blog ini alternatifnya. Tidak boleh menolak. : P
Mulanya begini,
Tidak tau yang mengajari siapa, tidak tau sumbernya dari mana dan tidak tau maksudnya apa, “mereka” memanggilku “bu Haji”. Pertama kali panggilan itu saya dengar waktu akan turun dari angkot. Si bapak kondektur mengetuk-ngetuk jendela kaca “minibus” dengan koinnya sambil teriak pada pak sopir: “NGGUUUU TUNGGUUUU…. BU HAJI MAU TURUN!!!…. TUNGGUUU!!!….. ROSS!!!”
Sambil turun, sambil menyimak suara pak kondektur, sambil takjub, saya mengulangi apa yang dikatakan pak kondektur tadi, “bu Haji?????”. Seketika itu suasana hati berubah, sebal. Rasanya kok malah seperti diejek. Maka demi menetralkan hati kembali saya membatin “amiin.. amiin semoga bisa naik haji beneran”.
Semenjak itu, sebutan “bu haji” akrab terdengar di telinga. Tidak hanya di angkot, tapi juga di jalan, di pasar, di warung, tetep… “bu haji”. Hehe.. pernah juga ku dengar seorang mbak berjilbab dipanggil “bu hajjjiiiii…..” (bagian hajinya dibuat panjang)
Oh.. banyak teman senasib rupanya.
Pengalaman itu terjadi kurang lebih 2 tahun silam.
Dan dimulai dari dua bulan yang lalu, saya punya langganan. Langganan pemanggil “Bu Haji”. Setiap saya masuki pintu parkir –perjalanan menuju kantor- ada seorang bapak, rajin menyapa “pagi bu haji…”
Karena setiapa pagi (hari kerja) saya melewati pintu itu, dan –nampaknya- setiap pagi ia berjaga di pintu yang sama, maka setiap pagi pula saya mendapat sapaan “pagi bu haji”.
Kadang kubalas “pagi…” kadang “ pagi pak!!!” kadang mengangguk saja sambil senyum sedikit.
Dan tibalah tanggal 24 lalu, pada saat ritual “pagi ibu haji” di pintu parkir, dan balasan angguk+meringisku, tiba-tiba datang suara dari belakang si bapak penjaga pintu: “EHH JANGAN MANGGIL BEGITU !!!” kata seseorang.
“KENAPA EMANG??” Tanya bapak si penjaga pintu.
Selanjutnya saya sudah 5 langkah dari TKP, sudah tidak terdengar jelas apa yang mereka bicarakan. Yang pasti setelah hari itu, tidak terdengar lagi sapaan “pagi ibu Haji”.
Hehe.. entahlah,
Memang kalau dipikir-pikir, kita tidak perlu mudah terusik dengan hal-hal kecil (seperti itu). Selama bukan hal prinsip ya… untuk apa diambil hati dan diperpanjang. InsyaAllah pada waktu dan situasi yang tepat, Allah swt akan mengirimkan pertolongan.
—————
Dan bila ada diantara teman-teman yang suka memanggil “ibu Haji” sebaiknya jangan. Apalagi kepada orang asing, benar sebaiknya jangan. Memang niat hati hanya bercanda, tapi tidak tau kan apakan mereka terima.
April 19, 2010 pada 8:50 am
Met pagi, asyik abbis deh postingnya, sukses untuk anda.
Kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, ada posting baru yang membahas : “Persiapan usaha cuci sepeda motor?”, dan artikel lain yang berguna, jangan lupa kasi komentar yaaa. Terima kasih.