Catatan Amatiran

Sudut pandang

Posted by: purna on: Januari 4, 2010

Kalau Anda pernah menyeberangi Selat Sunda, kalau Anda menyeberangi Selat Sunda saat siang yang terang, Anda akan melihat air yang menghampar seperti permadani, biru membentang sangat luas. Si permadani diam tak acuh namun menelan segala apa yang dilemparkan padanya. Di ujung yang jauh Anda akan melihat air dan langitnya bertemu, berdua membentuk horizon, satu garis yang sebenarnya tak pernah ada.

Kalau Anda menyeberangi Selat Sunda saat senja, Anda akan melihat langit menggelap, air menggelap. Alam berseragam dengan padanan warna jingga sampai merah tua. Dimana-mana. Seolah-olah ada upacara ”sampai jumpa” pada Matahari yang berjalan perlahan tapi tidak bisa dihentikan, bersarang ke dalam lautan.

Kalau Anda menyeberangi Selat Sunda saat malam. Anda tidak akan melihat apa-apa kecuali satu dua lampu di pulau kecil. Lampu-lampu itu tampak berkelip seperti bintang. Air laut berubah warna menjadi hitam. Anak-anak kecil, tidak akan tau bahwa mereka sedang menyeberangi lautan.

Saat siang lautan biru, saat senja lautan jingga, jika malam lautan menjadi hitam. Satu objek dideskribsikan berbeda sesuai dari titik mana seorang melihatnya. Ya sudah biasa, seperti hal ikhwal dalam perikehidupan kita. Di dalam pergaulan, dalam persaudaraan, dalam pekerjaan.

Sering, menurut kita benar-benar benar, ternyata benar-benar tidak benar. Sering kita tidak tau mana yang benar-benar benar dan mana yang benar-benar tidak benar. Allahu a’lam. Allahu a’lam.





Hmm makan es krim enakkk…!!!

3 Tanggapan to "Sudut pandang"

Jadi gmn caranya biar tau yang benar-benar benar?

———
Oh iya,
Hmm memang, kita sering merasa memiliki sudut pandang paling benar. Kita hanya akan tau bahwa sudut pandang kita salah, saat kita menemukan sudut yang baru, yang menurut kita lebih benar dari sebelumnya.

Cara agar (mendekati) benar-benar benar?
Kalau di atas analoginya selat Sunda, ya kita tanya pada orang yang paling ahli dan paling tau mengenai selat Sunda itu. Misalnya pada orang yang sering menyeberanginya atau yang pernah tenggelam disana.
Allahu a’lam.

mari kita terus belajar agar sudut pandang kita makin banyak. dan jangan kita terus saling menayalahkan sudut pandang orang lain.

Nah, itu kalo purna pulang kampung ke lampung, kalo berangkat lain lagi ceritanya. selat sunda akan terlihat lebih indah karna sang pujaan telah setia menunggu di bandung, hehehe

—————————

ee…
pulang kampung ke lampung, benar.
pujaan hati di bandung, ini… siapa yang membocorkan rahasia* :D

*All kidding.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.