Catatan Amatiran

Kakak Beradik

Posted by: purna on: September 16, 2009

Adakah satu rumah yang dihuni oleh kakak dan adik, yang tak pernah berpolemik? Ada, disana, sebuah “negeri” bernama Surga.
Eeeh di dunia?? Hehe, Iya Ada, di rumah yang adik dan kakak, bersama-sama menyimak apa kata orangtuanya.
Mengapa kakak dan adik suka bertengkar?
Bukan suka, hanya sering.


Beberapa sebab/alasan bertengkarnya kakak-beradik:

Pada Masa Anak-Anak.
sebagian besar sebab perkelahian kakak dan adik pada masa anak-anak adalah karena memperebutkan sesuatu, bisa mainan, makanan, atau hal-hal yang sangat remeh lainnya.
Sisi kakak:kakak bertanya, “benarkah adik adalah anugerah?” Karena sepanjang yang ia ingat lahirnya adik seumpama lahir pula masalah, semakin adik tumbuh besar, masalah pun ikut membesar. Bagaimana tidak? Mainan kakak diambil, baju kakak diambil, waktu bermain kakak pun diambil.
Kata ibu, “Berbagilah pada adikmu”. Kakak membatin: Ah, tidak perlu berbagi, adik sudah mengambil sendiri.

Sisi adik: Sebenarnya, kakak adalah manusia pujaan. Karena -entah apa landasannya, DIMATA ADIK- kakak adalah manusia kaya raya (bajunya bagus, mainannya juga bagus) maka Adik mau pinjam properti kakak, dengan atau tanpa izinnya.
Karena Kakak juga adalah manusia pintar dan serba bisa (memanjat pohon kelapa pun ia bisa) maka Adik menirukan perbuatan sang kakak.
“Kalau kakak mau main sama teman-temannya, adik tak usah ikut” perkataan mulia itu dianggapnya seperti angin lalu. Adik tetap menjadi “ekor” bagi kakaknya. Dimana kakak pergi, disanalah si adik harus ada. Adik (pura-pura) tidak tau kalau itu membuat kakak KESAL.

Sisi kakak (lagi): Kakak memimpikan satu hari lepas dari adik, iya benar itu hanya mimpi. Si adik seperti bayangan, bila ia diam, si bayangan diam, bila ia lari, bayanganpun ikut lari. Seperti mesin, otomatis adik menirukan apa yang kakak lakukan. Sayangnya, apabila adik celaka, kakaklah yang menjadi sasaran omelan orangtua, dianggap ingkar pada motto “Seorang kakak harus menjaga adiknya”.

Pada Masa Remaja Awal
Masa remaja awal boleh dibilang masa huru-hara karena pada saat itu temanya “tiada hari tanpa berantem”. Perkelahian mereka adalah karena seputar harga diri. Harga diri versi kakak beradik, harga diri yang mereka pandang dari sudut nalar yang masih sempit.
Si adik berpikir bahwa kakak tidak sehebat seperti yang dahulu ia bayangkan, Kakak bukan manusia serba bisa, Kakak hanya “kebetulan” bisa. Dan Si kakak menyadari bahwa adik telah menjelma menjadi mahluk pembangkang dan begitu sulit untuk dikendalikan.
Bila adik kena marah, kakak bahagia begitu juga bila kakak terkena masalah, adik jadi gembira. Namun anehnya, bila adik tidak ada kakak kesepian, apabila kakak pergi adik kehilangan.

Pada Masa Remaja Akhir adalah gencatan senjata. Mulai jarang terjadi keributan. Mungkin kakak dan adik sama-sama bosan dengan pertengkaran atau mungkin juga mereka pikir bertengkar tidaklah professional atau memang meraka telah taubat, insyaf. Tanpa dibicarakan, tanpa perjanjian, mereka sepakat menghentikan pertengkaran frontal. Hanya sesekali, saling menyindir dan mempermalukan.

Pada Masa Dewasa Awal dan seterusnya dan selama-lamanya. Tidak akan terdengar lagi suara perkelahian. Tiba-tiba mereka seperti teman seperjuangan yang baru pulang dari medan perang, akur, kooperatif, bahu-membahu. Mereka mulai mengerti bahwa mereka berdua adalah satu kesatuan kekuatan (berlebihan ya :D ) Mereka mulai membenarkan apa kata orangtua, bahwa kakak dan adik adalah saudara, datang dari rahim yang sama, satu nasab. Lalu si adik faham bahwa kakak haruslah dihormati dan sang kakak mengerti bahwa adik haruslah disayangi.

Maka jadilah hepi ending.
Hehehe…

Salam Bersaudara!!!

5 Tanggapan ke "Kakak Beradik"

cerita: konon ada dua orang kaka adik, suatu hari sang adik menirukan sang kakak memanjat pohon jambu hingga terjatuhlah sang adik. dan sudah pasti sang kakaklah yang kena marah orang tua mereka gara-gara ulah sang adik.
selamat menemukan makna saudara. :)
binatang apa yang bersaudara hayo?

———
Wah, ceritanya seperti tidak asing. Hehe.
Binatang yang bersaudara : katak beradik -dulu wis pernah-

oh ya ya sudah pernah
wah brarti ingatannya bagus juga. bagus, bagus

kayaknya ada yang berubah?
kok jadi amatiran?

———
iya e memang amatiran, lebih cocok kan ya?

Waah. Nice writing… Berasa nyata…

———
Inspired by experience :D

ah nggak juga, siapa bilang begitu?
apa yang buat kamu kehilangan keprcyaan diri?

Tinggalkan Balasan