Catatan Amatiran

Komunikasi

Posted by: purna on: Februari 17, 2009

Telah sampai padaku, berita bahwa kita jangan mudah percaya dengan bahasa verbal manusia, khususnya orang Indonesia, apalagi suku Jawa dan Sunda (rasial ya?). Kebanyakan secara verbal, orang-orang ini sering menjenerikkan kata-katanya. Jadi tidak ngena, seperti tidak terus terang, tidak ”jujur” menyatakan kebenaran.

Sebagai contoh adalah: Jika seseorang secara tidak sengaja menginjak kaki orang lain,
Si penginjak berkata “wah!!! Maaf, maaf Mbak, tidak sengaja, bagaimana sakit ya?”
si Mbak sambail meringis menahan sakit menjawab: “ah, tidak apa-apa Bu”

Apakah pembohong atau pembohong?
Yang lebih tepat adalah bahwa Orang Idonesia umumnya adalah pribadi-pribadi yang terikat pada budaya, ilok nggak ilok, sopan nggak sopan, menjaga perasaan. Sehingga cenderung mengatur apa yang dikatakan, ”demi kebaikan lebih banyak” (seperti kata kepala sekolah Hogwart).

Begitu juga chatting yang pokok digunakan adalah bahasa verbal, jelas tidak melulu gambaran nyata. Bagi yang kurang jeli, dalam chatting ini akan sulit mengidentifikasi karakter sebenarnya. Maka waspadalah ketika chatting ya :D .

Kalau kita ndak bisa berpegang teguh pada apa kata orang jadi piye? Kita berpedoman pada apa?

Katanya, yang lebih akurat adalah bahasa non-verbal (nah ini kalau di ceting sulit diketahui) yaitu gerak badan, mimik wajah, nada bicara, pandang mata dan sebagainya. Yang bahasa-bahasa itu justru lebih memproyeksikan kenyataan perasaan.

Contoh bahasa non-verbal paling expresive (katanya) adalah mata. kalau matanya berbinar-binar, berarti ia sedang senang. Kalau matanya melot, sepertinya ia marah. Kalau matanya berkedip-kedip, entahlah.

Yang dapat disimpulkan adalah: Tunda penilaian Anda terhadap seseorang atas apa yang ia bicarakan. Teliti, observasi dan kita akan menemukan kebenaran. Lalu kita akan tau sebaiknya bagaimana bersikap.

Salam Sukses.

Ref: Training Communication Skill oleh bp Didi, 12 Februari 2009.

5 Tanggapan to "Komunikasi"

sopan santun, ilok ra ilok bukankah termasuk -kalau dalam bahasa islam- akhlak karimah? dan bukankah Muhamad SAW diutus untuk itu?

————-
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”
Hadits Sahih Riwayat Al-Bukhari.

Apakah sopan dan ilok (versi Indonesia ini) adalah termasuk akhlak al karim? Saya kurang tau.
Sopan dan ilok sepertinya adalah hasil kesepakatan masyarakat tertentu, yang standarnya berbeda antara satu dengan lainnya. Dan itu bermacam-macam, Ada yang sejalan dengan agama, ada juga yang tidak. Ya kira-kira begitu.

saya punya temen matanya mlotot terus,, kira kira dia mmarrah terus ya?

———–
lha ini, coba deh diteliti. Bisa jadi setiap melihat sampean, bawaannya dia pingin marah terus.

whah gitu ya, separah itukah diriku?
lha, kalao kamu lihaat saya gimana, mlotot juga kah?

———
mana kutahu.

jangan-jangan kata mana kutahu termasuk “kebohongan” ora ilok

kayaknya stelah saya mengomentari tulisan panjenengan sekarang jadi ga berkarya lagi
wah kalo memang benar gara-gara itu berdosa saya……..
nyuwun agunging pangapunten………..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.