Posted by: purna on: Juli 6, 2008
Bising, seperti biasa.
Bis merayap, seperti biasa.
Duduk melihat pemandangan pinggiran jalan, seperti biasa.
Merenung, seperti biasa.
Temanya tentang hidup, juga seperti biasa.
Ketika kecil, ingin segera besar. Kelihatannya (waktu itu) menjadi anak besar adalah menyenangkan; bebas, takkan dipaksa tidursiang oleh Bunda.
Waktu SMP, ingin segera SMA. Menjadi SMA enak, seragamnya bagus, putih abu-abu, kelihatan dewasa, berwibawa, dan kalo mau pacaran boleh boleh saja (?).
Waktu SMA, ingin segera lulus, dan bekerja pula. Ada uang sendiri, nggak perlu malu minta uang saku.
Setelah jadi pekerja maunya apa ya?
—– Mau dipaksa tidur siang lagi jew
—–
Menyelam sedalam samudra.
Menjulang setinggi bintang dan bulan di angkasa.
Dunia ruar biasa, setiap jengkal tanah ada emas permata, tidak perlu menunggu besok untuk menjadi kaya. Dunia begitu rupa, malaikat-malaikat terbang dengan sayap menuju terang; dan para bidadari berkerumun di semak-semak; wangi dan bernyanyi.
Namun rupawan, takkan pernah terlihat bagi mereka yang mengabaikan.
Hampir semuaorang tidak tau dimana tempatnya berpijak.
Banyak manusia hebat di sekitar, kalau mau sombong jadi katak dalam tempurung saja.
Baaaaru layak.
hahaha
nah, inilah contoh manusia yang malu mengatakan.
setelah jadi pekerja maunya nikah dan hidup bahagia dong……
makanya buruan nikah!!!
he…he…
—————
wahh… iya pak, benar. Feri feri gud idea.
Juli 9, 2008 pada 1:13 pm
@ ‘Namun rupawan, takkan pernah terlihat bagi mereka yang mengabaikan’= SEPAKAT
jangan2 ane rupawan ya! cuman manusia-manusia pada malu ja mengatakannya (takut kesaing) ha ha
>>> Huwek…